INSGANIT oleh Ust. Alfi : Harmonisnya Orang Tua, Teladan Sejati bagi Anak

Dalam kehidupan rumah tangga, sering kali kita lupa bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi pelajaran hidup bagi anak-anak kita di masa depan. Cara orang tua berbicara, bersikap, dan menyelesaikan masalah bukan sekadar urusan pribadi, melainkan pendidikan tanpa kata yang terus direkam oleh anak-anak.

Rumah Tangga sebagai Sekolah Pertama

Anak-anak belajar tentang cinta bukan dari nasihat panjang, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Bagaimana ayah memperlakukan ibu, bagaimana ibu merespons ayah, bagaimana konflik diselesaikan dengan tenang atau justru dengan emosi—semuanya menjadi cetak biru pernikahan anak-anak kelak.

Tanpa disadari, rumah tangga orang tua adalah sekolah pertama tentang relasi, tempat anak belajar makna menghormati, memaafkan, bersabar, dan berkomunikasi dengan kasih sayang.

Luka Pengasuhan yang Tak Terlihat

Tidak sedikit anak yang tumbuh membawa luka batin karena menyaksikan orang tuanya saling merendahkan, menyakiti dengan kata-kata, atau memilih diam tanpa cinta. Luka itu mungkin tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata.

Sebagian dari mereka tumbuh dengan ketakutan terhadap pernikahan. Bukan karena membenci ikatan suci tersebut, tetapi karena tak ingin mengulang rasa sakit yang pernah mereka saksikan.
Di sinilah kita belajar bahwa menikah bukan sekadar bertahan dalam hubungan, tetapi meninggalkan teladan yang menenangkan.

Warisan Terbesar Orang Tua

Hakikatnya, setiap orang tua sedang menulis warisan.
Bukan hanya berupa harta atau pencapaian, tetapi warisan sikap dan teladan hidup.

Orang tua diberi pilihan:

  • Meninggalkan contoh rumah tangga yang penuh ketenangan dan kasih, atau

  • Meninggalkan gambaran pernikahan yang melahirkan ketakutan dan trauma.

Pilihan itu kelak akan memengaruhi cara anak memandang cinta, keluarga, dan masa depan mereka sendiri.

Pernikahan sebagai Ibadah Terpanjang

Dalam Islam, pernikahan bukan hanya ibadah sehari atau setahun, tetapi ibadah terpanjang sepanjang hayat. Setiap sikap, tutur kata, dan keputusan dalam rumah tangga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya:

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”
(QS. An-Nisa: 9)

Ayat ini menegaskan bahwa ketakwaan dan tutur kata yang baik dalam keluarga adalah fondasi bagi generasi yang kuat.

Harmonisnya orang tua bukan hanya menghadirkan ketenangan hari ini, tetapi menyiapkan masa depan anak-anak dengan penuh harapan.
Karena pada akhirnya, anak tidak hanya mewarisi nama keluarga, tetapi juga cara mencintai dan cara bertahan dalam kehidupan rumah tangga.

Mari jadikan rumah tangga kita sebagai teladan, bukan luka.
Sebagai tempat pulang yang menenangkan, bukan kenangan yang menakutkan.