INSGANIT oleh Ustadz Priyo : Hakikat Rasa Syukur yang Sejati


Syukur adalah salah satu ajaran paling mendasar dalam Islam, namun sekaligus menjadi salah satu yang paling menantang untuk diwujudkan secara utuh. Banyak orang mengaku bersyukur, tetapi belum tentu memahami hakikat rasa syukur yang sejati. Padahal, syukur bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan sikap hidup yang mencerminkan kedalaman iman dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.

Makna Syukur dalam Islam

Secara bahasa, syukur berarti menampakkan nikmat. Sedangkan secara istilah, syukur adalah pengakuan seorang hamba atas segala nikmat Allah dengan hati, lisan, dan perbuatan, serta menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan hanya sikap pasif menerima keadaan, melainkan kunci bertambahnya nikmat dan keberkahan hidup.

Syukur Tidak Hanya Saat Senang

Kesalahan umum dalam memahami syukur adalah mengaitkannya hanya dengan kelapangan dan keberhasilan. Padahal, hakikat syukur yang sejati justru diuji saat seseorang berada dalam kesempitan, ujian, atau keadaan yang tidak sesuai harapan.

Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang agung dalam hal ini. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)

Syukur sejati tidak menafikan rasa sedih atau lelah, tetapi menempatkan hati tetap yakin bahwa semua ketetapan Allah mengandung hikmah dan kebaikan.

Tiga Pilar Syukur yang Sejati

Para ulama menjelaskan bahwa syukur yang sempurna mencakup tiga unsur utama:

  1. Syukur dengan hati
    Yaitu menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat—besar maupun kecil—berasal dari Allah SWT, bukan semata hasil usaha pribadi, kecerdasan, atau kedudukan.

  2. Syukur dengan lisan
    Ditunjukkan dengan memperbanyak pujian kepada Allah, mengucapkan Alhamdulillah, serta menyebut nikmat tanpa kesombongan dan tanpa merendahkan orang lain.

  3. Syukur dengan perbuatan
    Inilah puncak syukur. Nikmat yang Allah berikan digunakan untuk ketaatan, bukan kemaksiatan. Ilmu digunakan untuk mendidik, harta untuk berbagi, waktu untuk amal saleh, dan jabatan untuk melayani.

Tanpa amal nyata, syukur hanya berhenti sebagai pengakuan, belum menjadi pembuktian.

Syukur dan Qana’ah: Dua Sahabat Sejalan

Syukur yang sejati tidak bisa dipisahkan dari qana’ah, yaitu sikap merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Orang yang selalu membandingkan hidupnya dengan yang “di atas” akan sulit merasakan nikmat, meskipun ia memiliki banyak hal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.”
(HR. Muslim)

Dengan qana’ah, syukur tumbuh subur, dan hati menjadi lebih tenang.

Syukur sebagai Jalan Kedekatan kepada Allah

Syukur bukan hanya respon terhadap nikmat, tetapi juga bentuk penghambaan. Bahkan Allah menyebutkan bahwa sedikit sekali hamba-Nya yang benar-benar bersyukur:

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
(QS. Saba’: 13)

Ini menunjukkan bahwa syukur sejati membutuhkan kesadaran ruhani, mujahadah (kesungguhan), dan latihan terus-menerus. Orang yang bersyukur akan lebih mudah menerima nasihat, lebih ringan beribadah, dan lebih lapang dalam berinteraksi dengan sesama.

Menumbuhkan Rasa Syukur dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa cara praktis untuk menumbuhkan syukur sejati antara lain:

  • Membiasakan muhasabah harian atas nikmat yang sering terlupakan

  • Memperbanyak dzikir dan doa syukur, terutama setelah shalat

  • Menggunakan nikmat sekecil apa pun untuk kebaikan

  • Bergaul dengan orang-orang sederhana agar hati tidak mudah lalai

  • Mengingat bahwa nikmat terbesar adalah iman dan Islam

Maka, makikat rasa syukur yang sejati bukan terletak pada banyaknya nikmat, melainkan pada kemampuan hati untuk mengenali Pemberi Nikmat dan ketaatan dalam memanfaatkannya. Syukur adalah jalan menuju ketenangan, keberkahan, dan kemuliaan di sisi Allah SWT.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, baik dalam kelapangan maupun kesempitan. Aamiin.