INSGANIT oleh Ust. Ratna : Teladan Imam Malik tentang Adab dan Ilmu

 

INSGANIT "Inspirasi Tiga Menit"

Dalam tradisi keilmuan Islam, adab selalu didahulukan sebelum ilmu. Salah satu sosok ulama besar yang menjadi teladan agung dalam hal ini adalah Imam Malik bin Anas رحمه الله, pendiri mazhab Maliki dan ulama besar Madinah. Kehidupan beliau menjadi bukti nyata bahwa kemuliaan ilmu tidak akan terwujud tanpa adab yang luhur.

Imam Malik: Ulama Madinah yang Berwibawa

Imam Malik lahir di Madinah pada tahun 93 H. Beliau tumbuh dan berkembang di kota Rasulullah ﷺ, sebuah lingkungan yang sarat dengan ilmu, sunnah, dan keteladanan para sahabat serta tabi’in. Sejak kecil, Imam Malik telah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu hadits dan fikih.

Namun yang paling menonjol dari diri beliau bukan hanya keluasan ilmunya, melainkan kedalaman adab dan penghormatan terhadap ilmu serta sunnah Nabi ﷺ.

Mengagungkan Ilmu dan Hadits Rasulullah ﷺ

Salah satu teladan paling masyhur dari Imam Malik adalah sikap beliau ketika menyampaikan hadits. Diriwayatkan bahwa:

  • Imam Malik tidak pernah menyampaikan hadits kecuali dalam keadaan suci.

  • Beliau memakai pakaian terbaik, menyisir rambut, dan duduk dengan penuh wibawa saat majelis ilmu.

  • Jika disebut nama Rasulullah ﷺ, wajah beliau berubah pucat dan tubuhnya tampak gemetar sebagai bentuk takzim dan penghormatan.

Ketika ditanya mengapa beliau bersikap demikian, Imam Malik menjawab bahwa hadits adalah bagian dari agama, sehingga harus diperlakukan dengan penuh kehormatan.

Adab dalam Menuntut Ilmu

Imam Malik sering menasihati murid-muridnya agar memperhatikan adab sebelum memperbanyak ilmu. Ucapan beliau yang terkenal:

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Beliau menekankan bahwa ilmu tanpa adab akan menghilangkan keberkahan dan justru dapat menjerumuskan seseorang pada kesombongan. Karena itu, murid-murid Imam Malik dikenal tidak hanya cerdas secara ilmiah, tetapi juga santun dalam sikap dan tutur kata.

Sikap Tawadhu’ dan Kehati-hatian dalam Berfatwa

Meskipun menjadi rujukan utama umat Islam pada masanya, Imam Malik dikenal sangat hati-hati dalam berfatwa. Tidak jarang beliau menjawab pertanyaan dengan ucapan:

“Aku tidak tahu.”

Bagi Imam Malik, mengatakan “tidak tahu” adalah bagian dari ilmu dan bentuk ketakwaan kepada Allah. Sikap ini menunjukkan ketawadhuan yang tinggi serta kesadaran akan tanggung jawab besar dalam menyampaikan hukum agama.

Menghormati Kota Madinah

Sebagai ulama Madinah, Imam Malik menunjukkan adab yang luar biasa terhadap kota Rasulullah ﷺ. Beliau enggan berkendara di Madinah dan lebih memilih berjalan kaki sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah yang pernah dipijak oleh Nabi ﷺ.

Hal ini mencerminkan bahwa adab tidak hanya terkait dengan manusia dan ilmu, tetapi juga dengan tempat-tempat yang dimuliakan oleh Allah.

Relevansi Teladan Imam Malik di Zaman Modern

Di era modern saat ini, ketika akses ilmu sangat mudah dan cepat, teladan Imam Malik menjadi pengingat penting bahwa ilmu harus disertai adab. Tanpa adab, ilmu bisa kehilangan cahaya dan keberkahannya.

Teladan Imam Malik mengajarkan kita untuk:

  • Menghormati guru dan sumber ilmu

  • Bersikap tawadhu’ meskipun berilmu

  • Mendahulukan akhlak sebelum kepandaian

  • Menjaga kesucian niat dalam menuntut ilmu

Imam Malik رحمه الله bukan hanya seorang imam mazhab, tetapi juga ikon adab dalam menuntut dan mengajarkan ilmu. Keteladanan beliau seharusnya menjadi cermin bagi para penuntut ilmu, pendidik, dan dai agar menjadikan adab sebagai fondasi utama dalam setiap aktivitas keilmuan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang berilmu, beradab, dan diberkahi ilmu tersebut. Aamiin.