INSGANIT oleh Ust. Nuri : Kesetaraan Manusia dalam Pandangan Penciptaan
Dalam Islam, setiap manusia memiliki martabat dan kemuliaan yang sama. Kesetaraan ini bukanlah konsep buatan manusia, melainkan bersumber langsung dari hakikat penciptaan itu sendiri.
Allah ﷻ menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan menyempurnakan penciptaannya, lalu meniupkan ruh ke dalam diri setiap insan. Dari sinilah kemuliaan manusia bermula. Maka, nilai dasar manusia tidak ditentukan oleh rupa, status sosial, jabatan, harta, atau penilaian manusia lainnya, tetapi oleh asal penciptaannya yang mulia.
Dimuliakan Sejak Diciptakan
Sering kali seseorang menilai dirinya hanya dari “cover luar”: penampilan fisik, latar belakang keluarga, masa lalu, atau keterbatasan yang dimiliki. Akibatnya, muncul rasa rendah diri, sulit bersyukur, bahkan merasa tidak layak di hadapan orang lain.
Padahal, sebelum semua label dunia itu melekat, kita telah dimuliakan oleh Allah sejak pertama kali diciptakan. Menyadari hal ini membantu kita menerima diri dengan lapang, mensyukuri apa yang ada, dan menjalani hidup dengan lebih tenang.
Larangan Merendahkan Sesama
Sebagaimana tidak pantas merendahkan diri sendiri, tidak pantas pula merendahkan orang lain. Menilai seseorang hanya dari tampilan luar, masa lalu, atau kondisi lahiriahnya adalah sikap yang keliru.
Kita tidak pernah tahu bagaimana nilai seseorang di sisi Allah. Bisa jadi, orang yang tampak sederhana justru memiliki kedudukan tinggi karena keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaannya.
Ukuran Kemuliaan yang Sebenarnya
Islam mengajarkan bahwa yang membedakan manusia satu dengan yang lain hanyalah takwa dan akhlak, bukan penampilan, popularitas, atau label duniawi. Inilah standar keadilan dan kemuliaan yang hakiki.
Sikap yang benar adalah:
-
Menerima diri dengan penuh syukur
-
Menghormati sesama manusia tanpa diskriminasi
-
Menjaga akhlak dalam memandang dan memperlakukan orang lain
Dengan pemahaman ini, kita belajar hidup lebih manusiawi, adil, dan dekat dengan nilai-nilai yang Allah ridhai.
